Indonesian English
Home » Berita » David Sulaeman, Harumkan Nama INDONESIA
Selasa, 21 November 2017

David Sulaeman, Harumkan Nama INDONESIA

David SulaemanPemuda yang satu ini mampu mengharumkan nama Bogor hingga kancah internasional. David Sulaeman, salah satu kenshi Kota Bogor telah mengharumkan nama Indonesia di ajang SEA GAMES XXVII Myanmar, dengan menyabet satu medali emas pada 2013 silam.

MUNGKIN tidak banyak yang tahu, jika pria yang sudah memasuki umur 32 tahun itu sempat mengalami masa-masa kelam, dengan bertahan hidup dan mencari sesuap nasi di Terminal Baranangsiang. Dari berjualan majalah hingga membersihkan deretan bus di terminal kebanggaan masyarakat Kota Bogor itu dilakoninya.

"Sempat mencari rezeki di terminal diawali karena pendidikan yang tidak mumpuni dan rumah yang lokasinya berdekatan dengan terminal," katanya.

David mengatakan, ia hanya menempuh pendidikan hingga bangku sekolah dasar, sedangkan SMP dan SMA dilaluinya dengan mengikuti program kesetaraan. 1998 menjadi awal terjun ke dunia olahraga, namun bukan kempo melainkan karate.

"Dulu sempat masuk karate, klub Inkai di bilangan Jalan Pahlawan, namun hanya bertahan satu tahun," ungkapnya.

David menambahkan, teman satu klub karatenya, yaitu Teddy juga memiliki kemampuan bermain kempo. Melihat gerakan kempo yang lebih menarik dan sederhana, membuatnya jatuh cinta dan pada 1999 menjadi awal dirinya terjun ke olahraga kempo.

"Akhirnya saya memutuskan untuk beralih ke kempo dan masuk ke dojo (sebutan untuk tempat berlatih kempo) di GOR Olympic Talang," paparnya.

Sesudah bergabung ke dojo, dirinya mengaku masih bekerja serabutan di terminal. Baju kempo pertamanya pun diperoleh dari hasil bekerja di terminal. Setelah berlatih selama dua tahun, kejuaraan pertamanya didapatkan pada 2001.

"Pertama kali turun ke lapangan saya mengikuti Kejurnas Antarkota di GOR Padjajaran, kelas 50 kg pada 2001, dan alhamdulillah keluar sebagai juara dua," cetusnya.

Tidak selang berapa lama, dengan event yang sama pada 2002, dia kembali menyabet juara 2. Namun, setelah event tersebut, David harus menelan pil pahit karena dibekap cedera patah tangan.

"Akibat patah tangan itu, saya harus dioperasi dengan bantuan dari Koni Jawa Barat dan vakum dari kempo, diperlukan waktu lima bulan untuk kembali fit dan mengikuti kejuaraan pada 2003," tuturnya.

Tahun tersebut menjadi awal kembalinya David setelah dibekap cedera, tak tanggung-tanggung event pertama yang diikutinya yaitu Prakualifikasi PON XVI di Bali. Momen tersebut berhasil mengantarkannya menjadi juara 3 Randori kelas 50 kg.

"Di tahun yang sama pula saya meraih tiga emas di Training Centre (TC) Porda Indramayu kelas 50 kg," paparnya.

Ia mengaku, meskipun menggeluti kempo berbuah manis dengan meraih medali di berbagai kejuaraan, justru keluarganya sama sekali tidak memberikan dukungan, bahkan terkesan meragukan masa depannya ketika memilih menjadi atlet.

"Keluarga sempat ragu, namun motivasi saya bukan menurun, malah semakin meningkat dan termotivasi lagi untuk lebih berprestasi," kenangnya.

Pria yang kini sudah memiliki dua buah hati itu menuturkan, prestasi demi prestasi terus ditorehkannya tahun demi tahun, hingga pada 2004 mengikuti ajang PON di Palembang. Meskipun masuk final, namun dirinya harus mengakui ketangguhan lawan dari Surabaya dan hanya mampu merengkuh medali perak.

"Meskipun kalah di final, tetap ada hikmahnya juga, keluarga saya mulai mengakui dan mendukung pilihan saya menjadi atlet kempo," ujarnya.

"Sangat bangga memiliki anak yang berprestasi dan tidak menyangka, ibu hanya bisa mendoakan," ucapnya menirukan perkataan sang ibu.

Sejak saat itu, dirinya mulai termotivasi dan lebih bersemangat. Setelah pada 2005 tidakmengikuti kejuaraan mana pun, pada 2006 dirinya mengikuti Kejurnas Mahasiswa kelas 50 kg dan menyabet medali emas.

"Setiap kali mendekati kejuaraan, latihan yang biasa dilakukan ditambah dan semakin intens, dimulai dengan berlari pagi untuk mengatur pernafasan, setelah itu skipping atau lompat tali selama 12 menit," ungkapnya.

Dia menambahkan, latihan dilanjutkan di siang hari dengan kembali berlari selama dua jam. Menurut dia, dengan terus berlari mampu membuat fisik kuat dan stabil, sedangkan sore hari dihabiskan dengan latihan shadow boxing.

"Pada 2007 saya kembali ikut Prakualifikasi PON XVII di Jogjakarta, kelas 50 kg dan keluar sebagai juara tiga," katanya.

David mengatakan, selama 2008 ada tiga kejuaraan yang diikuti, yakni Kejurnas Antarkota ke-6 di Samarinda sebagai juara 2, Kejurnas Antarkota ke-8 di Jakarta Selatan sebagai juara 1, kemudian Kejurprov Kempo Jabar di Sukabumi dan keluar sebagai juara 2.

"Setelah itu, saya kembali ikut Prakualifikasi PORDA XI 2009 di Bandung kelas 50 kg, dan keluar sebagai juara 1 Randori dan juara 1 Embu Pasangan Yudansha Putra juga pada eventyangsama,” cetusnya.

Ajang multievent empat tahun sekali PORDA, pun kembali menjadi targetnya dalam merengkuh medali emas. Dirinya keluar sebagai juara 1 Randori kelas 50 kg di ajang itu. Keberuntungan kembali didapatkan David, setelah dirinya mendapatkan pekerjaan sebagai salah satu staf di KONI Kota Bogor pada 2010.

"Setahun menjadi staf di KONI, pada 2011 saya pindah ke Koperasi Tirta Sanita, namun latihan tetap rutin, sesekali meminta dispensasi ke kantor," ungkapnya.

Setelah itu pada 2011, satu emas berhasil ia dapatkan di ajang Pelatda PON, untuk menambah koleksi medalinya yang sudah terkumpul sekitar 40-an. Di ajang PON yang digelar di Riau 2012 silam, dua medali berhasil ia sabet, yakni satu emas dan satu perak.

"2013 menjadi awal langkah saya untuk berprestasi di kancah internasional, yaitu Sea Games XXVII Myanmar, dan berbuah manis dengan menyumbang satu emas," paparnya.

David menambahkan, dirinya mengaku sangat terharu, senang sekaligus bangga saat melihat sekaligus mendengar sang merah putih berkumandang di negeri orang. Kerja keras serta keyakinan yang dipupuknya ternyata membuahkan hasil.

"Dukungan pelatih serta keluarga terutama anak dan istri yang tidak pernah mengeluh karena sering ditinggal pergi, ternyata menghasilkan sesuatu," katanya.

Dirinya mengaku, bermain dengan ringan dan tidak dijadikan beban adalah kunci merengkuh juara. Anggapan jika menjadi seorang atlet tidak memiliki masa depan ditampiknya jauh-jauh, dengan kerja keras, latihan, keyakinan, dan kepercayaan diri. Prestasi demi prestasi akan silih bergantian datang. (rpl/c)

---------------------------------------------------------------------------------------------
Sumber : Radar Bogor, Lipsus Pemuda, Selasa, 3 Juni 2014, Hal : 59

Komentar Anda


Security code
Refresh

Profil Perkemi

Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Data Kenshi

Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Komunitas

Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Alamat Perkemi

Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com